Kamis, 11 Januari 2018

AFIKSASI PEMBENTUKAN VERBA

Nama : Mavik Lailatul Zunia (166082)
Prodi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
RESUME
AFIKSASI PEMBENTUKAN VERBA
Afiksasi pembentukan verba
Afiksasi adalah salah satu proses dalam pembentukan kata turunan baik kategori verba, nomina, maupun beraktifa ajektiva, dan  dalam pembentukan afiksasi verba terdapat berbagai afiks-afiks pembentuknya, yaitu :
1)      Prefiks ber-
2)      Konfiks dan klofiks ber-an
3)      Klofiks ber-kan
4)      Sufiks –kan
5)      Sufiks –i
6)      Prefiks per-
7)      Konfiks per-kan
8)      Konfiks per-i
9)      Prefiks me-
10)  Prefiks di-
11)  Prefiks ter-
12)  Prefiks ke-
13)  Konfiks ke-an

B.     Verba berprefiks ber-
Bentuk dasar dalam pembentukan verba dengan prefiks ber-dapat berupa :
1.      Morfem dasar terikat yaitu seperti terdapat dalam kata bertempur, berkelahi, berjuang, bertikai dan berhenti.Bentuk dasarnya yang berupa morfem dasar terikat, contoh : tempur, kelahi.
2.      Morfem dasar bebas yaitu seperti terdapat pada kata berladang, beternak, bekerja, bernyanyi, dan bergaya.Bentuk dasarnya yang berupa morfem dasar bebas, contoh : ladang, ternak.
3.      Bentuk turunan berafiks yaitu seperti terdapat pada kata berpakaian (bentuk dasarnya pakaian), beraturan (bentuk dasarnya aturan), berkekuatan (bentuk dasarnya kekuatan), berkebangsaan (bentuk dasarnya kebangsaan), berpenghasilan (bentuk dasarnya penghasilan) dan berpendapatan (bentuk dasarnya pendapatan).
4.      Bentuk turunan reduplikasi yaitu seperti terdapat pada kata berlari (bentuk dasar lari-lari), berkeluh-kesah (bentuk dasar keluh-kesah) dan berilmu-pengetahuan (bentuk dasar ilmu-pengetahuan).
5.      Bentuk turunan hasil komposisi yaitu seperti terdapat pada kata berjual beli (bentuk dasar jual beli), bertemu muka (bentuk dasar temu muka), dan bergunung api (bentuk dasar gunung api).
Makna gramatikal verba berprefiks ber- yang dapat dicatat, antara lain yang menyatakan:
a.       Mempunyai (dasar) atau ada (dasar) nya.
b.      Memakai atau menggunakan (dasar).
c.       Mengendarai atau menumpang/naik (dasar).
d.      Berisi atau mengandung (dasar).
e.       Mengeluarkan atau menghasilkan (dasar).
f.       Mengusahakan atau mengerjakan (dasar).
g.      Melakukan (dasar).
h.      Mengalami atau berada dalam keadaan (dasar).
i.        Menyebut atau menyapa (dasar).
j.        Kumpulan atau kelompok (dasar).
k.      Memberi.
C.    Verba Berkonfiks dan Berklofiks Ber-an
Verba berbentuk ber-an seperti pada kata bermunculan dan berpakaian memiliki dua macam proses pembentukan. Pertama, yang berupa konfiks, artinya prefiks ber- dan sufiks –an itu diimbuhkan secara bersamaan sekaligus pada sebuah bentuk dasar. Kedua, yang berupa klofiks artinya prefiks ber- dan sufiks –an itu tidak diimbuhkan secara bersamaan pada sebuah dasar. Dalam hal ini pada bentuk dasar, mula-mula diimbuhkan sufiks –an baru kemudian diimbuhkan lagi prefiks ber-.
Ber-an sebagai konfiks memiliki satu makna, sedangkan ber-an sebagai klofiks memiliki makna sendiri-sendiri. Jadi, prefiks ber- memiliki makna sendiri. Verba bermunculan pada contoh di atas memiliki makna ′banyak yang muncul dengan tidak teratur′ dan makan gramatikal kata berpakaian adalah ′memakai pakaian′. Makna gramatikal verba berkonfiks ber-an adalah :
1.      Banyak serta tidak teratur.
2.      Saling atau berbalasan.
3.      Saling berada di.

D.    Verba Berklofiks Ber-kan
Dalam prosesnya, verba berklofiks ber-kan dibentuk dengan proses, mula-mula pada bentuk dasar diimbuhkan prefiks ber-, lalu diimbuhkan pula sufiks –kan. Misalnya mula-mula pada kata dasar senjata diimbuhkan prefiks ber- menjadi bersenjata, lalu pada kata bersenjata diimbuhkan pula sufiks –kan sehingga menjadi bersenjatakan, Prefiks ber- dan sufiks –kan pada verba ber-kan memiliki maknanya masing-masing, di mana prefiks ber- memiliki makna gramatikal sendiri, sedangkan sufiks –kan memiliki makna gramatikal ′akan′. Perhatikan beberapa contoh berikut:
  Bersenjatakan, “menggunakan senjata akan (clurit)”
  Berisikan, “mempunyai isi akan (air)”
  Berdasarkan, “menggunakan dasar akan (pancasila)”

E.     Verba Bersufiks –kan
Dalam prosesnya, sufiks –kan, bila diimbuhkan pada dasar yang memiliki komponen makna (+ tindakan) dan (+ sasaran), akan membentuk verba bitransitif, yaitu verba yang berobjek dua. Bila diimbuhkan pada dasar yang lain, sufiks –kan akan membentuk pangkal (stem) yang menjadi dasar dalam pembentukan verba inflektif. Verba bersufiks –kan digunakan dalam :
                                                        i.            Kalimat imperatif. Contoh:
a.       Lemparkan bola itu ke sini!
b.      Tuliskan namamu di sini!
c.       Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar!
                                                      ii.            Kalimat pasif yang predikatnya berpola: (aspek) + pelaku + verba, dan subjeknya menjadi sasaran tindakan. Contoh:
a.       Rumah itu baru kami dirikan.
b.      Jembatan itu akan mereka robohkan.
c.       Tugas itu belum saya laksanakan.
                                                    iii.            Keterangan tambahan pada subjek atau objek yang berpola: yang + (aspek) + pelaku + verba. Contoh:
a.       Uang yang baru kami terima sudah habis lagi.
b.      Kami melewati daerah yang sudah mereka amankan.

Verba bersufiks –kan memiliki makna gramatikal :
1.      Jadikan.
2.      Jadikan berada di.
3.      Lakukan untuk orang lain.
4.      Lakukan akan.
5.      Bawa masuk ke.
Catatan:
Verba bersufiks –kan lazim menjadi dasar dalam pembentukan verba berprefiks me- inflektif, di- inflektif dan ter- inflektif, seperti terdapat pada kata melompatkan, dilompatkan dan terlompatkan. Jadi, dalam bentuk verba berklofiks me-kan, di-kan dan ter-kan, dimana verba me-kan digunakan dalam kalimat akif transitif, verba di-kan digunakan dalam kalimat pasif tindakan dan verba ter-kan dalam kalimat pasif keadaan.
F. Verba Bersufiks –i
Verba bersufiks –i adalah verba transitif, yang berlaku juga sebagai pangkal (stem) dalam pembentukan verba inflektif. Verba bersufiks –i digunakan dalam:
(1)  kalimat imperatif. Contoh:
-          tolong gulai teh ini!
-          mari kita hampiri anak itu!
-          lompati saja pagar itu!
(2)   kalimat pasif yang predikatnya berpola: (aspek) + pelaku + verba, dan subjeknya menjadi sasaran perbuatan. Contoh:
-          kemarin beliau sudah kami hubungi.
-          anak-anak yatim itu harus kita santuni.
-          gurumu itu mesti kamu hormati dengan baik.
(3)   keterangan tambahan pada subjek atau objek yang berpola: yang + (aspek) + pelaku + verba. Contoh:
-          desa yang akan kita kunjungi berada di balik bukit itu.
-          orang yang harus kamu surati sudah ada di sini.
-          banjir melanda wilayah yang akan kita datangi.

Verba bersufiks –i memiliki makna gramatikal:
(1)   berulang kali.
(2)   tempat.
(3)   merasa sesuatu pada.
(4)   beri atau bubuh pada.
(5)   sebabkan atau jadikan.
(6)   lakukan pada.
G. Verba Berprefiks per-
Dalam proses verba berprefiks per- adalah verba yang bisa menjadi pangkal dalam pembentukan verba inflektif. Verba berprefiks per- dapat digunakan dalam :
(1)   Kalimat imperatif. Misalnya:
-          persingkat bicaramu!
-          perpanjang dulu KTP-mu ini!
-          perdalam ilmumu!
(2)   Kalimat pasif yang berpola: (aspek) + pelaku + verba. Misalnya:
-          penjagaan akan kami perketat nanti malam.
-          syarat-syarat harus kita perlunak untuk mereka.
-          masjid ini akan kami perluas ke arah timur.
(3)   Keterangan tambahan pada subjek atau objek yang berpola: yang + aspek + pelaku + verba. Misalnya:
-          saluran yang telah kami perdalam kini telah dangkal lagi.
-          gubernur akan meninjau bangunan yang baru kita perluas.
-          mobil yang belum lama kami perbaiki mogok lagi.
Verba berprefiks per- memiliki makna gramatikal:
(1)   jadikan lebih.
(2)   anggap sebagai.
(3)   bagi.

DAFTAR PUSTAKA
http://yhasintaindahsari.blogspot.co.id/2017/01/afiksasi-pembentukan-verba.html
Chaer, Abdul.2008.Morfologi Bahasa Indonesia (Pendekatan Proses).Banten:Rineka Cipta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar