Kamis, 11 Januari 2018

PERUBAHAN BENTUK KATA

Nama : Mavik Lailatul Zunia (166082)
Prodi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
RESUME
PERUBAHAN BENTUK KATA

Pada umumnya, perubahan bentuk kata itu disebabkan oleh adanya perubahan beberapa kata asli karena pertumbuhan dalam bahasa itu sendiri, atau karena memang adanya perubahan bentuk dari kata-kata pinjaman.
Perubahan-perubahan bentuk kata apapun dalam suatu bahasa lazim disebut gejalabahasa. Apa gejala bahasa itu? Badudu (1981:47) dalam bukunya Pelik-Pelik BahasaIndonesia menjelaskan bahwa gejala bahasa ialah :peristiwa yang menyangkut bentukan-bentukan kata atau kalimat dengan segala macam proses pembentukkannya.
Adapun macam-macam gejala bahasa dapat diuraikan sebagai berikut :
ANALOGI
Analogi merupakan salah satu cara pembentukan kata baru. Dalam suatu bahasa yang disebut analogi adalah suatu bentukan bahasa dengan meniru contoh yang sudah ada. Dalam suatu bahasa yang sedang tumbuh dan berkembang, pembentukan kata-kata baru (analogi) sangat penting sebab bentukan kata baru dapat memperkaya perbendaharaan bahasa.
Menyatakan laki-laki
Menyatakan perempuan

Saudara                /a/
Saudari                 /i/

Pemuda               /a/
Pemudi                 /i/

Siswa                  /a/
Siswi                   /i/

Mahasiswa         /a/
Mahasiswi           /i/

Pramugara        /a/
Pramugari           /i/

Wisudawan        /a/
Wisudawati        /i/


Kedua bentuk kata itu terdapat perbedaan fonem, yaitu fonem /a/ dan /i/ pada akhir kata. Fonem /a/ dan /i/ mempunyai fungsi menyatakan perbedaan jenis kelamin laki-laki dan perempuan.
Selain bentukan bentuk baru seperti di atas, ada pula deretan yang sudah lama kita jumpai, misalnya: sastrawan, hartawan, wartawan, rupawan, dan bangsawan. Dari bentukan-bentukan itu, timbul pula bentukan-bentukan seperti: olahragawan, olahragawati; negarawan, negarawati; sosiawan, sosiawati; dan karyawan, karyawati. Fonem /a/ dan /i/ pada bentukan kata si atas tidak ubahnya berfungsi menyatakan perbedaan jenis kelamin.
Di samping bentukan-bentukan baru yang menyatakan perbedaan jenis kelamin, terdapat bentukan yang dibentuk dari kata-kata asli, misalnya bentuk-bentuk seperti: sosialisme, sosialis, dan hedonisme. Analog dengan itu, terbentuklah kata-kata seperti marhaenisme, marhaenis, pancasialis (Gorys keraf, 1980: 133).

ADAPTASI
Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia selalu dipengaruhi oleh bahasa-bahasa asing dan bahasa-bahasa daerah. Dari pengaruh itu bahasa Indonesia diperkaya oleh kata-kata asing dan daerah untuk melengkapi perkembangannya. Kata-kata yang diambil dari bahasa asing selalu mengalami penyesuaian (adaptasi) dengan penerimaan pendengaran, ucapan lidah bangsa pemakai bahasa yang dimasukinya, dan struktur bahasa. Oleh sebab itu, yang disebut adaptasi adalah perubahanbunyi dan struktur bahasa asing menjadi bunyi dan struktur yang sesuai dengan penerimaan pendengaran atau ucapan lidah bangsa pemakai bahasa yang dimasukinya.
Adaptasi atau penyesuaian dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
Adaptasi fonologis adalah penyesuaian perubahan bunyi bahasa asing menjadi bunyi yang sesuai dengan ucapan lidah bangsa pemakai bahasa yang dimasukinya.adaptasi ini menekankan pada lafal bunyi, misalnya:









Bahasa asing atau daerah
Bahasa yang dimasukinya

Zonder                      (Belanda)
Fadhuli (Arab)
Zaal (Belanda)
Dhahir (Arab)
Voorsehot (Belanda)
Vooloper (Belanda)
Chauffeur (Belanda)
Vacantie                    (Belanda)
Sonder
Peduli
Sal
lahir
Persekot
Pelopor
Sopir
pakansi


Adaptasi Morfologis adalah penyesuaian struktur bentuk kata. Perubahan struktur bentuk kata ini pasti berpengaruh pada perubahan bunyi, misalnya :

Bahasa Asing
Bahasa yang Dimasukinya

Schildwacht               (Belanda)
Sekilwak

Parameswari              (Sanskerta)
Permaisuri

Prahara                       (Sanskerta)
Perkara



KONTAMINASI
Dalam bahasa Indonesia, kata kontaminasi sama dengan kerancuan. Kata rancu berarti ‘campur aduk’, ‘kacau’. Dalam bidang bahasa, kata rancu (kerancuan) dipakai sebagai istilah yang berkaitan dengan pencampuradukan dua unsur bahasa (imbuhan, kata, frase, atau kalimat) yang tidak wajar. Perhatikan kata-kata sebagai berikut:
Dinasionalisirkan
Dipublisirkan

Pada contoh di atas, dapat kita lihat kerancuan akhiran {-ir} (Belanda) dengan akhiran {-kan}. Baik akhiran {-ir} maupun akhiran {-kan} berfungsi membentuk kata kerja. Pada bentuk rancu dinasionalisirkan dan dipublisirkan, terjadi dua kali proses pembentukan kata kerja itu;pertama, dengan akhiran {-ir}, dan kedua dengan akhiran {-kan}. Bentuk dinasionalisasikan berasal dari tumpang tindih dua kata: dinasionalisir dan dinasionalisasikan, kedua bentuk terakhir ini sama artinya.
Bentuk kata kerja di atas dalam pemakaian bahasa Indonesia bersaing dengan kata-kata dinasionalisasikan dan dipublikasikan, yang hanya terjadi satu kali proses pembentukkannya, yaitu dari kata benda nasional dan kata benda publikasi. Peristiwa seperti diatas disebut kontaminasi bentukan kata.
Contoh kontaminasi frase:
Kadang-kadang (benar)
Ada kala(nya)     (benar)
Kadang kala (kontaminasi)
Berulang-ulang (benar)
Berkali-kali (benar)
Berulang kali (kontaminasi)
Contoh kontaminasi kalimat:
Anak-anak dilarang merokok. (benar)
Anak-anak tidak boleh merokok. (benar)
Anak-anak dilarang tidak boleh merokok. (kontaminasi)

HIPERKOREK
Gejala hiperkorek merupakan proses pembetulan bentuk yang sudah betul lalu malah menjadi salah. Gejala hiperkorek dapat kita perhatikan dalam uraian berikut.
Fonem /s/ menjadi /sy/ ;
Sehat menjadi syehat;
Insaf menjadi insyaf;
Saraf menjadi syaraf;
Fonem /h/ menjadi /kh/ :
Ahli menjadi akhli;
Hewan menjadi khewan;
Rahim menjadi rakhim;
Fonem /p/ menjadi /f/ :
Pasal menjadi fasal;
Paham menjadi   faham;
Fonem /j/ menjadi /z/ :
Ijazah menjadi   izazah;
Jenazah menjadi zenazah.

Contoh lainnya :
Utang       (betul)             menjadi           hutang (hiperkorek)                                                  
Pigura       (betul)             menjadi           figura  (hiperkorek)                                                  
Jadwal      (betul)             menjadi           jadual  (hiperkorek)                                                  
Asas          (betul)             menjadi           azas     (hiperkorek)                                                  
Izin           (betul)             menjadi           ijin       (hiperkorek)                                                  
Zaman      (betul)             menjadi           jaman   (hiperkorek)                                      
Khawatir   (betul)             menjadi           kuatir   (hiperkorek)      
Gejala hiperkorek ini juga melanda ragam bahasa pergaulan remaja, atau dalam ragam bahasa lawak. Misalnya, kofi, mefet, padahal semestinya kopi; misalnya susu diucapkan syusyu (periksa: Jupriono, 1993).

VARIAN
Gejala varian sering kita jumpai dalam ucapan pejabat pada Era Orde Baru. Vocal /a/ pada sufiks –kan menjadi /ə/. Misalnya:
Direncanakan menjadi direncanaken;
Digalakkan menjadi digalakken;
Diambilkan menjadi diambilken;
Membacakan menjadi membacaken;
Membanggakan menjadi membanggaken;
Berdasarkan menjadi berdasarken.

ASIMILASI
Gejala asimilasi berarti proses penyamaan atau penghampirsamaan bunyi yang tidak sama. Misalnya:
Alsalam > assalam > asalam;
Inmoral > immoral > imoral
Mertua > mentua






DISIMILASI
Disimilasi adalah proses berubahnya dua buah fonem yang sama menjadi tidak sama. Misalnya:
Vanantara (Sanskerta) > belantara;
Citta (Sanskerta) > cipta;
Sajjana (Sanskerta) > sarjana;
Rapport (Belanda) > lapor;
Lalita (Sanskerta) > jelita;
Lauk-lauk (Melayu) > lauk pauk.

ADISI
Gejala adisi adalah perubahan yang terjadi dalam suatu tuturan yang ditandai oleh penambahan fonem. Gejala adisi dapat dibedakan atas protesis, epentesis, dan paragog.
Protesis ialah proses penambahan fonem pada awal kata.
Lang > elang;
Mas > emas;
Stri > istri;
Smara > asmara.
Epentesis ialah proses penambahan fonem di tengah kata.
General > jenderal;
Gopala > gembala;
Racana > rencana;
Upama > umpama;
Kapak > kampak.
Paragog ialah proses penambahan fonem pada akhir kata.
Lamp > lampu;
Hulubala > hulubalang;
Ina > inang;
Adi > adik;
Boek   (Belanda) > buku.





REDUKSI
Gejala reduksi adalah peristiwa pengurangan fonem dalam suatu kata. Gejala reduksi dapat dibedakan atas aferesis, sinkop, dan apokop.
Aferesia ialah proses penghilangan fonem pada awal kata.
Upawasa > puasa;
Uelociped > sepeda;
Telentang > tentang;
Tatapi > tetapi > tapi;
Anadhyaksa > jaksa.
Sinkop ialah penghilangan fonem di tengah-tengah kata.
Utpati > upeti;
Listuhayu > lituhayu;
Sahaya > saya;
Kelamarin > kemarin;
Bahasa > base.
Apokop ialah proses penghilangan fonem pada akhir kata.
Pelangit > pelangi;
Possesiva > posesif;
Import > impor;
Mpulaut > pulau.

METATESIS
Metatesis suatu pertukaran, adalah perubahan kata yang fonem-fonemnya bertukar tempatnya. Contoh:
Rontal > lontar;
Beting > tebing;
Kelikir > kerikil;
Banteras > berantas;
Almari > lemari;
Apus > usap sapu;
Lebat > tebal.



DIFTONGISASI
Diftongisasi adalah proses perubahan suatu monoftong jadi diftong. Contoh:
Sodara > saudara;
Suro > surau;
Pulo > pulau;
Pete > petai;
Sate > satae;
Gule > gulai;
bale > balai.
anggota   >   anggauta
teladan   >   tauladan

MONOFTONGISASI
Monoftongisasi adalah proses perubahan suatu diftong (gugus vocal) menjadi monoftong. Contoh:
Gurau > guro;
Bakau > bako;
Sungai > sunge;
Danau > dano;
Buai > bue;
Tunai > tune.
manteiga (Prt) > mentega
parceiro > persero

ANAPTIKSIS
Anaptiksis adalah proses penambahan suatu bunyi dalam suatu kata guna melancarkan ucapannya. Contoh:
Putra > putera;
Putri > puteri;
Slok > seloka;
Candra > candera;
Srigala > serigala.
Kraton > keraton
HAPLOLOGI
Haplologi adalah proses penghilangan suku kata yang ada di tengah-tengah kata. Contoh:
Sarnantara > sementara;
Budhidaya > budaya;
Mahardhika > merdeka.

KONTRAKSI
Kontraksi adalah gejala yang memperlihatkan adanya satu atau lebih fonem yang dihilangkan. Kadang-kadang, ada perubahan atau penggantian fonem. Contohnya:
Perlahan-lahan > pelan-pelan;
Bahagianda > baginda;
Tidak ada > tiada;
Tapian na uli > tapanuli.

DAFTAR PUSTAKA
Masnur Muslich. 2010. Tatabentuk Bahasa Indonesia (Kajian ke Arah Tatabahasa Deskritif). Jakarta : Bumi Aksara
http://yunitassari.blogspot.co.id/2014/05/perubahan-bentuk-kata.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar