Nama : Mavik Lailatul Zunia (166082)
Prodi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
RESUME
KLASIFIKASI KATA
Hakikat Kata
Kata adalah sebuah bentuk satuan terbesar dalam morfologi. Menurut Crystal (1980:383-385), kata adalah satu anjaran yang mempunyai pengenalan intuitif universal oleh penutur asli, baik dalam bahasa lisan maupun tulisan. Definisi kata yang umum sebagai satuan makna atau gagasan tidak membantu karena kesamaran konsep. (Muib Ba’dulu dan Herman, 2010:4). Sedangkan menurut Chaer, 2008: 63 kata merupakan bentuk yang, kedalam mempunyai susunan fonologi yang stabil dan tidak berubah, dan keluar mempunyai kemungkinan mobilitas dalam kalimat.
Klasifikasi Kata
Kelas Terbuka
Yaitu kelas kata yang keanggotannya dapat bertambah atau berkirang sewaktu-waktu.
Nomina, ciri utama dilihat dari adverbia pendampingnya adalah bahwa kata-kata yang termasuk kelas kata nomina:
Pertama, tidak dapat didahului oleh adverbia negasi tidak, agak.
Contoh : tidak meja, agak meja.
Kedua, tidak dapat didahului oleh adverbia derajat (agak, lebih, sangat, dan paling).
Contoh : lebih kursi, sangat kursi.
Ketiga, tidak dapat didahului oleh adverbia keharusan wajib.
Contoh : wajib meja.
Keempat, dapat didahului oleh adverbia yang menyatakan jumlah : satu, sebuah, sebatang.
Contoh : seekor kucing, sebuah meja.
Verba, ciri utamanya dilihat dari adverbia yang mendampinginya adalah bahwa kata-kata yang termasuk kelas verba.
Pertama, dapat didampingi oleh adverbia negasi tidak, tanpa dan bukan.
Contoh : tidak datang, tanpa makan.
Kedua, dapat didampingi oleh semua adverbial frekuensi, seperti: sering datang, jarang makan, dan kadang-kadang pulang.
Ketiga, tidak dapat didampingi oleh kata bilangan dengan pengolongannya, contoh: sebuah*membaca, duabutir*menulis, dantigabutir*pulang.
Keempat, tidak dapat didampingi oleh semua adverbial derajat. Contoh: agak *pulang, cukup *datang, lebih *pergi.
Kelima, dapat didampingi oleh semua adverbial kala (tenses). Contoh: sudah makan, sedang mandi, tengah membaca, lagi tidur.
Adjektiva, mensifati kata benda.
Pertama, tidak dapat didampingi oleh adverbia frekuensi : sering, jarang, pernah.
Contoh : sering ganteng, pernah ganteng.
Kedua, tidak dapat didampingi adverbia jumlah: banyak, sedikit.
Ketiga, dapat didampingi oleh semua adverbia derajat: agak, lebih, sangat, dan paling.
Keempat, adverbia bersifat kepastian.
Kelas Tertutup
Yaitu kelas kata yang jumlah keanggotaannya terbatas dan tidak tampak kemungkinan untuk bertambah dan berkurang.
Adverbia, tidak mensifati namun mendampingi adjektiva. Menerangkan nomina.
Pronomina
Kata ganti karena tugasnya karena tugasnya memang menggantikan nomina yang ada.
Contoh : kata gantidiri: saya dan aku (orang pertama tunggal), kami dan kita (orang pertama jamak). Kata ganti penunjuk: kata ini dan itu untuk menggantikan nomina sekaligus penunjuk.
Numeralia (Kata bilangan)
Kata yang menyatakan bilangan, jumlah, nomor, urut, dan himpunan. Menurut bentuk dan fungsi ada bilangan genap, ganjil, bilangan bulat, bilangan pecahan, bilangan tingkat, dan kata bantu bilangan.
Preposisi (kata depan)
Tempat berada : dari, pada, dalam, atas, antara.
Arah tujuan : ke, kepada, akan, terhadap.
Arah asal : dari
Pelaku : oleh
Alat : dengan, berkat
Perbandingan : daripada
Hal atau masalah : tentang, mengenai
Akibat atau batas waktu : hingga, sehingga, sampai.
Tujuan : untuk, buat, guna.
Konjungsi (kata penghubung)
kata-kata yang menghubungkan satuan-satuan sintaksis, baik antara kata dengan kata, antara frasa dengan frasa, antara klausa dengan klausa atau kalimat dengan kalimat. Contoh: ibu dan ayah pergi ke Bogor, Dia tidak datang karena hujan lebat sekali.
Artikulus (kata sandang)
kata-kata yang berfungsi sebagai penentu atau mendefinitkan sesuatu nomina, ajektifa, atau kelas lain. Artikulus dalam bahasa Indonesia adalah si dan sang. Contoh: Mana si gendut, sejak tadi belum muncul, dan sang kancil adalah tokoh cerita binatang.
Interjeksi
kata-kata yang mengungkapkan perasaan batin, misalnya karena kaget, marah, terharu, kangen, kagum, sedih, dan sebagainya. Interjeksi dibagi menjadi dua, yang pertama kata-kata singkat seperti wah, cih, hai, oi, oh, nah, dan hah. Kedua berupa kata biasa, seperti, aduh, celaka, gila, bangsat, astaga, astaghfirulah.
Partikel
kah, lah, pun, dan per. Partikel ini ada yang sebagai penegas, tetapi ada pula yang bukan.
Contoh: Apakah isi lemari itu?
Itulah sekilas tentang hakikat klasifikasi kata yang dapat saya uraikan.
DAFTAR PUSTAKA
http://morfologibahtra.blogspot.co.id/2017/01/klasifikasi-kata-menurut-para-ahli.html
Chaer, Abdul.2008.Morfologi Bahasa Indonesia (Pendekatan Proses).Banten:Rineka Cipta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar