Nama : Mavik Lailatul Zunia (166082)
Prodi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
RESUME
IDENTIFIKASI MORFEM
Morfem berasal dari kata “morphe” yang berarti bentuk kata dan “ema” yang berarti membedakan arti. Jadi sederhananya, morfem itu suatu bentuk terkecil yang dapat membedakan arti. Morfem adalah satuan gramatikal terkecil yang mempunyai makna (Chaer, 1994: 146). Morfem –an, -di, me-, ter-, -lah, jika digabungkan dengan kata makan, dapat membentuk kata makanan, dimakan, memakan, termakan, makanlah, yang mempunyai makna baru yang berbeda dengan makna kata makan.
MORF
Morf adalah anggota morfem yang belum ditentukan distribusinya. Misalnya/i/ pada kata kenai adalah morf; morf adalah ujud kongkret atau ujud fonemis dari morfem, misalnya men- adalah ujud konkret dari meN- yang bersifat abstrak (Kridalaksana, 1993: 141). Jadi, sederhananya morf itu adalah nama untuk sebuah bentuk yang belum diketahui statusnya.
ALOMORF
Alomorf adalah variasi bentuk morfem terikat yang disebabkan oleh pengaruh lingkungan yang dimasukinya, atau bisa juga dikatakan nama untuk bentuk tersebut kalau sudah diketahui statusnya. Dengan kata lain alomorf adalah perwujudan konkret (di dalam penuturan) dari sebuah morfem. Jadi setiap morfem tentu mempunyai almorf, entah satu, dua, atau enam buah. Contohnya, morfem: me-, mem- men-, meny-, meng-, dan menge-.
Dalam merumuskan alomorf ini, kita harus tahu lebih dulu morfem terikat apa yang melekat pada kata dasarnya. Untuk merealisasikan masalah tersebut, maka harus disesuaikan dengan kaidah-kaidah yang berlaku dalam bahasa Indonesia. Contoh-contoh alomorf dibawah ini:
ber-, ber- be- bel-
berjalan bekerja belajar
berlari berenang -
· me-, me- men- mem-
melacak mendaki membeli
melarikan mencari mempercayai
meng- meny-
mengoreksi menyapu
menggoreng menyanyi
· pe- pe- pen- pem-
pelari pendatang pembeli
penyanyi pencari pembanjak
peng- pel-
pengemudi pelajar
pengendara pelacur dan sebagainya.
KLASIFIKASI MORFEM
Apabila ditinjau dari segi bentuknya dapat dibedakan menjadi:
Morfem Bebas
Morfem bebas adalah morfem yang dapat berdiri sendiri dan mempunyai arti tanpa harus dihubungkan dengan morfem lain. Semua kata dasar tergolong sebagai morfem bebas. Misalnya buku, pensil, meja, rumah dan sebagainya. Apabila bentuk itu kita pecah lagi, sehingga menjadi bu- ku, me- ja, pen- sil, ru- mah, dan seterusnya, maka bentuk bu- dan bentuk ku tidak mempunyai arti. Dengan demikian bentuk buku, meja, pensil dan rumah tidak dapat dipecah lagi. Bentuk yang demikian itilah yang disebut morfem bebas.
Morfem Terikat
Morfem terikat adalah morfem yang tidak dapat berdiri sendiri dan tidak mempunyai arti. Makna morfem terikat baru jelas setelah morfem itu dihubungkan dengan morfem yang lain. Semua imbuhan (awalan, sisipan, akhiran, serta kombinasi awalan dan akhiran) tergolong sebagai morfem terikat. Selain itu, unsur-unsur kecil seperti partikel –ku, -lah, -kah, dan bentuk lain yang tidak dapat berdiri sendiri, juga tergolong sebagai morfem terikat.
v Morfem terikat apabila ditinjau dari segi tempat melekatnya dapat dibedakan menjadi:
ü Prefiks (awalan) : me-, ber-, ter-, di-, ke-, pe-, per-, se-
ü Infiks (sisipan) : -em, -el, er-
ü Sufiks (akhiran) : -an, -i, -kan, -nya, -man, -wati, -wan, -nda
ü Konfiks (gabungan) : ke+an, pe+an, per+an, me+kan, di+kan,
me+per+kan, di+per+kan, me+per+i,
di+per+i, ber+kan, ber+an.
v Morfem terikat apabila ditinjau dari asal usulnya, maka dapat dibedakan menjadi:
ü Morfem terikat asli bahasa Indonesia ; lihat contoh-contoh di atas.
ü Morfem terikat dari bahasa asing, misalnya ;
o Bahasa Jawa : tuna, tata, daya, wawan, pramu, sarwa.
o Bahasa Sansekerta : pra, swa, maha, pri, wan, man, wati
o Bahasa Barat : is, istis, isme, isasi, if, or, om, us, re, de,
di, en, ab, in, eks, mon.
Apabila ditinjau dari segi keutuhaannya dapat dibedakan menjadi:
Morfem Utuh
Morfem yaitu morfem yang merupakan satu kesatuan yang utuh.
Misalnya, meja, kursi, rumah, henti, juang, dan sebagainya.
Morfem Terbagi
Morfem utuh yaitu morfem yang merupakan dua bagian yang terpisah atau terbagi. Misalnya, pada kata satuan (satu) merupakan morfem utuh dan (ke-/-an) adalah morfem terbagi. Semua afiks dalam bahasa Indonesia termasuk morfem terbagi.
Apabila ditinjau dari segi maknanya dapat dibedakan menjadi:
Morfem Bermakna Leksikal
Morfem bermakna leksikal yaitu morfem-morfem yang secara inher telah memiliki makna pada dirinya sendiri, tanpa perlu berproses dengan morfem lain. Misalnya, morfem-morfem seperti (kuda), (pergi), (lari), dan sebagainya adalah morfem bermakna leksikal. Morfem-morfem seperti itu sudah dapat digunakan secara bebas dan mempunyai kedudukan yang otonom dalam pertuturan.
Morfem Tak Bermakna Leksikal
Morfem tak bermakna leksikal yaitu morfem-morfem yang tidak mempunyai makna apa-apa pada dirinya sendiri sebelum bergabung dengan morfem lainnya dalam proses morfologis. Misalnya, morfem-morfem afiks (ber-), (me-), (ter-), dan sebagainya.
KATA
Menurut para tata bahasawan tradisional, kata adalah satuan bahasa yang memiliki satu pengertian; atau kata adalah deretan huruf yang diapit oleh dua buah spasi, dan mempunyai satu arti. Para tata bahasawan struktural, terutama penganut aliran Bloomfield, tidak lagi membicarakan kata sebagai satuan lingual; dan menggantinya dengan satuan yang disebut morfem. Tidak dibicarakannya hakikat kata secara khusus oleh kelompok Bloomfield karena dalam analisis bahasa, mereka melihat hierarki bahasa sebagai: fonem, morfem, dan kalimat.
Pembentukan Kata
Infleksi
Infleksi adalah proses pembentukan kata baru dengan menambahkan imbuhan terhapa suatu kata yang tidak mengubah kelas kata tersebut.
Contoh : “Buah” dan “Buah-buahan” dari contoh dapat kita analisis. “Buah” adalah kata benda tunggal. Sedangkan “Buah-buahan” adalah kata benda jamak. Jadi, tidak mengubah kelas katanya, hanya mengubah maknanya.
Derivasi
Derivasi adalah proses imbuhan terhadap suatu suku kata yang berakibat mengubah kelas katanya.
Contoh : “Pukul” menjadi “Pemukul” dan “Pemukulan”. Proses imbuhan derivasi mengakibatkan perubahan makna dan kelas kata. Kata “Pukul” yang merupakan kata kerja. Berubah menjadi kata benda ketika mendapat imbuhan “Pe-“ menjadi “Pemukul” dan imbuhan “Pe-an” menjadi “Pemukulan”.
DAFTAR PUSTAKA
https://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&cd=1&ved=0ahUKEwi_yL-r78PWAhUJso8KHcIAA80QFggbMAA&url=http%3A%2F%2Fkhansaakifaaya.blogspot.com%2F2014%2F04%2Fidentifikasi-morfem-jenis-jenis-morfem_9.html%3Fm%3D1&usg=AFQjCNEaLUOn2sOQTcyd7EIS45OeSb6GVQ
https://www.google.co.id/url?q=http://googleweblight.com/%3Flite_url%3Dhttp://mujikuat.blogdetik.com/2010/08/07/morfem-morf-alomorf-dan-kata%26ei%3DjB1vivSF%26lc%3Did-ID%26s%3D1%26m%3D693%26host%3Dwww.google.co.id%26ts%3D1506465410%26sig%3DANTY_L1r6Uw8KUj-eUY8Z1uH2Q6CSBiGAg&sa=U&ved=0ahUKEwjCyPr89MPWAhUIkpQKHb5SBB4QFggSMAk&usg=AFQjCNEPefU60hq6fUJlA_UjR6bJ4J5vCQ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar